About this blog: It consists of free articles and pictures based on erwan's recent interests only (most are related to education field) and the rest are about the ongoing issues. Some are taken and linked from the source sites while the others are of his own. FYI, the links (in the side bar) are also prepared due to the needs of his job; to encourage his students to learn English via internet, to provide them with helpful sources, and gadgets, and to communicate with them as well. However, visitors from worldwide are also welcome here. Please leave your comments in any space provided to make it better and better in the days to come. Belajar bahasa itu indah Thank you.

INFO GRESS!

Mulai tahun pelajaran 2013-2014 ini saya hijrah mengajar ke kelas XII IS 1, 2 dan 3. Buat bocah rombel X kemaren yang pernah belajar bareng saya dan masuk ke kelas diatas ' I just wanna say, Hey, It's you again! and you know what? as I told you all before, E-Primbon kalian di rombel X kemarin kudu diaktifkan kembali. Well? Any problem? It's never too late to start all over again. Saat bekerja telah tiba. Ayo Semangat!
Anyway, buat bocah rombel X yang baru gabung di SMADA Tahun ini masih boleh browsing dan unduh apa aja di blog ini atawa di blog rombel X RSBI. Raw material nya di sini ato di sana.
Terimakasih. I LOVE YOU ALL.

Minggu, 26 Juli 2009

Bacalah

Bila tubuh kita perlu nutrisi untuk mendapatkan energi, maka otak pun butuh 'asupan' agar mampu bekerja dengan lebih baik. Diantara asupan tadi diperoleh dengan jalan membaca. Masih ingat ungkapan dengan membaca kita berarti membuka jendela dunia. Buku adalah salah satu media perantaranya. Buku begitu akrab di kehidupan kita namun sayang masih banyak yang belum mampu menyediakan waktu untuk membaca. Sulit sekali menyempatkan diri untuk membaca. Seabreg aktifitas telah mengalihkan perhatian orang dari kegiatan membaca. Berbicara dan menyimak terasa lebih praktis ketimbang membaca yang butuh konsentrasi dan oleh karenanya perlu mencari tempat yang nyaman. Membaca pun cukup ditulis sebagai hobi saja. biar keliatan agak smart.
Beragam alasan klasik yang kerap kita pakai untuk menghindar dari membaca, apalagi menulis. Wah itu lebih repot lagi. Tahukah bahwa saat kita menonton, melihat atau menatap sesuatu kita sebenarnya sedang 'membaca' untuk mengetahui dan mengerti akan sesuatu tadi. Membaca membuat kita menabung banyak informasi dengan lebih baik. Otak mendapat asupan untuk berfikir. Info yang ditabung kenudian pasti berguna saat dihadapkan dengan suatu masalah. Apapun yang kita baca itu baik. Hanya perlu diingat untuk berhati-hati memilih apa yang dibaca. You are what you read. Jangan sampai kita malah jadi tersesat. Bukan membuka jendela dunia untuk menambah wawasan eh malah membuka jendela kesesatan yang membuat gelap pikiran. Banyak pilihan buku dan bacaan bermutu. Baik itu karya penulis lokal maupun saduran. Pilihlah yang memberi manfaat saja. Don't judge the book from its cover. Ingat bahwa wahyu pertama yang diterima oleh Rasul pun berbunyi perintah: Bacalah.. sudahkah anda membaca hari ini?
Selengkapnya Coy ......

Kamis, 23 Juli 2009

Teror must die

Karena nila setitik rusak susu se belanga. Seakan itu lah dampak yang diharapkan oleh para teroris yang ngebom di Jakarta tempo hari. But it doesnt work that way. Bukan simpati yang mereka dapatkan justru sebaliknya. Bangsa kita bangsa yang besar. Bangsa kita begitu kuat untuk dirusak oleh peristiwa teror bom di ibu kota. Bangsa ini tak kan luntur kecantikannya hanya karena aksi keji seperti itu. Dunia harus tau bahwa republik ini masih punya budaya yang jauh dari kekerasan..apalagi teror. Para pelaku teror bom itu hanya segelintir sosok anak negeri yang tersesat dan disesatkan. Kebenaran pasti terkuak. Indonesian people are still friendly as they used to be and that Teror must die. Indonesia cinta damai. Ibu pertiwi jangan menangis lagi. Datanglah ke Indonesia wahai penduduk dunia. Begitu banyak beautiful spot you haven't visited. Dari Brastagi sampai Raja Ampat. We welcome you all to come here. Or Do you want to see Orang utan? please do come to central Borneo! Selengkapnya Coy ......

Rabu, 15 Juli 2009

Ada Galian

Write something. Ya, biar otak ini ga macet. Tapi apa? Ide yang biasanya begitu akrab ko seperti menguap. Ah, muter2 lingkungan mungkin bisa membantu nyari ilham buat nulis. Yang ringan2 aja. Nah,bener. Begitu lewat di sebuah jalan ada pemandangan yg cukup menyita perhatian. Sebuah tulisan' Maaf ada galian pipa' ato 'hati2 ada galian kabel' hmm.. Foto pun diambil lengkap dgn pekerja yang sibuk dgn beliung ditangan membongkar apapun yg merintangi galian. Batu, kayu, aspal, semen, paving.. Beberapa kali jalanan sempat macet..Hmm.. Keringat pun bercucuran.. Kadang resiko diserempet kendaraan yg lewat mengintai. Belum lagi protes masyarakat yg merasa dirugikan karena jalan aspal sering dibiarkan berlubang bekas galian. Halaman yang sdh disemen ikut dibongkar..paving stone untuk pejalan kaki pun ga luput dari galian. Kenapa ga dari dulu aja bikin galian? Mungkin proyeknya cuma menggali, bukan mengembalikan seperti semula ya? Hmm.. Semua punya rencana sendiri-sendiri. Biar para penggali itu bekerja karena mereka juga butuh duit untuk keluarganya. Ah, mending muter2 lagi. Siapa tau dapat ide baru? Selengkapnya Coy ......

Minggu, 05 Juli 2009

Komplen ato curhat?

Sebabnya bermacam2. Bisa soal lingkungan, politik, pekerjaan, fasilitas dan layanan publik sampe harga sembako. Tidak juga memandang apakah ia cuma anak SD yang komplen ke mamanya yang cuma buruh nyuci karena malu terus ditagih uang iuran sekolah nya belum dibayar, ato capres yang banyak komplen ini itu di depan rakyat ketika kampanye.. Manusiawi memang bila kita suka mengeluh..manakala tidak setuju atau dirugikan..dalam banyak konteks.. Yang ekstrim akan komplen face to face plus bahkan mencak2 dan melabrak sampe mensomasi. Secara lebih ringan komplen biasa dikemas dalam bungkus curhat dan disalurkan lewat kata sharing.. Ato dialog. Psikolog bilang curhat itu dapat mengurangi stres. Terlebih sebagai mahluk yang tak dapat hidup sendiri, kita butuh sekali berbagi..suka maupun duka agar berkurang beban di hati..berbagi suka is no problem. Berbagi duka? Thats the problem. siapa yang doyan? Jadi adalah wajar bila komplen kerap terdengar wira wiri dibelakang kita. Negatifnya jadi Menguya' ato bergibah. Sejatinya Mereka butuh penyaluran. Hanya saja...tidak semua kita mampu untuk selalu menyikapi komplen dengan positif walo sekedar be a good listener. Mungkin karena si A kelewat sering komplen ke kita, ato komplen nya banyak ga logisnya, maka kita pun jenuh dan cape.. Terlebih kita sendiri sudah cukup pusing dgn masalah kita sendiri. Kita cap dia pengeluh, males, cuma iri dan bahkan jadi mulai sulit mempercayakan sesuatu tugas padanya..jangan2 bukan jadi beres eh sibuk komplen melulu. Ini lah, itu lah. Padahal.. kita lupa bahwa kita juga mungkin ga jauh beda.. Mudah ngeluh di dalam hati. Kadang malah tanpa sadar eh curhat juga . He he he. Ga percaya? Baca aja terus.. Lanjut.. Namun ada juga saat saat kita malah ikut ketularan komplen saat si A curhat sampe jadilah sharing komplen yang seru..ditambahin bumbu2..hingga obyektifitas malah tersamar..jadi ajang gosip..yang penting puas! walah? Oya, Selain secara lisan ada juga komplen yang disalurkan lewat tulisan kaya gini.. Cuman harus waspada. Ingat kasus Prita? Nah, ribet kan? Pihak yg dikomplen bukan menerima curhat itu sebagai kritikan eh malah dianggap jadi pencemaran nama baik.. Iya, bila itu tanpa bukti alias gosip dan fitnah belaka..tapi bila komplen tadi muncul sebagai reaksi ketidak adilan dan ada bukti? Kenapa Prita harus di bui? Apa hanya capres ato wakil rakyat yang punya power yang boleh komplen dan rakyat biasa wajib menelan saja komplen yang ingin dicurhatkan? Nah kan, saya ternyata komplen, eh curhat juga. Dasar manusia..fana banget. Ok, gimana kalo mulai sekarang komplen2 yang kita terima maupun yang kita buat kita kemas jadi input yang membangun demi kebaikan? Biasanya komplen itu berdekatan dgn harapan2 yang ingin didapat kan? Nah biar harapan tadi bisa terwujud, berkomunikasilah secara sehat dan tepat. Sehat isi dan pilihan kata di komplennya. Susun lah komplen itu agar lebih terdengar positif alias membangun. Dan 'tepat' kepada orang atau wadah yang dpt membantu membuat solusi atas komplen tadi.. Setuju? Kalo ga bisa jadi bumerang lho. Belum selesai juga? Solusi lain, curhat lah kepadaNYA karena sesungguhnya DIA pasti punya rencana indah untuk komplen kita yang belum ditanggapi oleh manusia. Do somethin better than complain Selengkapnya Coy ......

How to express your feelings in English

A angry "She was angry with her boss for criticising her work." "He made her very angry." annoyed "I'm very annoyed with him. He hasn't returned any of my calls." "She was annoyed by his suggestion that she was lazy." appalled very shocked: "The staff were appalled to hear that they would all lose their jobs." apprehensive slightly worried about the future: "I felt a little apprehensive before my interview." ashamed "How could you say such a thing? You should be ashamed of yourself!" at the end of your tether completely fed up: "The children have been misbehaving all day - I'm at the end of my tether."
B bewildered very confused: "He was bewildered by the choice and range of computers in the shop, and didn't know which one to buy." betrayed when your trust in someone is destroyed by what they do or say: "He betrayed my trust when he repeated my secret to everyone." C confused "I'm sorry I forgot your birthday - I was confused about the dates." confident sure of your abilities: "I'm confident that we can find a solution to this problem." cheated when you don't get something that you think you deserve: "Of course I feel cheated - I should have won that competition." cross quite angry: "I was cross with him for not helping me, as he said he would." D depressed very sad: "After he failed his English exam, he was depressed for a week." delighted very happy: "I'm delighted that I got the job. It's just what I always wanted." down in the dumps sad and fed up: "What's the matter with him? He's so down in the dumps these days." disappointed "She was disappointed by her son's poor results at school." E ecstatic extremely happy: "When he asked her to marry him she was ecstatic." excited "I'm excited by the new opportunities that the internet brings." emotional you have strong feelings (happy or sad) and you cry: "After the operation was over and he knew that he was healthy again, he became quite emotional." envious when you want something that someone else has: "I'm very envious of her happiness - I wish I was happy too." embarrassed slightly ashamed: "I felt so embarrassed about what I said, that my face went bright red." F furious very angry: "I was furious with him for breaking my favourite vase." frightened "As a child she was frightened by the dark." G great very good: "I feel great today!" H happy "She was happy to hear the good news." horrified = very shocked: "I'm horrified by the amount of violence on television today." I irritated = annoyed: "I get so irritated when he changes TV channels without asking me first." intrigued being so interested in something you have to find out more: "I'm intrigued to hear about your safari in Kenya - you have to show me the photos." J jealous = envious: "She was jealous of her sister's new toy." jaded tired and having no interest: "New employees think this is a great company, but after 10 years here, I've seen it all and I just feel jaded." K keen "I'm keen to see your new house - I've heard lots about it." "I'm keen on keeping fit." L lazy: "I can't be bothered to do anything today - I feel really lazy!" lucky: "I'm going to play the lottery - I feel lucky today!" let down disappointed: "You said you would come to the meeting, but when you didn't, I felt really let down." M maternal feeling protective and loving, like a mother: "Looking at my sister's new baby made me feel really maternal." N nonplussed so surprised that you don't know what to do next: "I was so nonplussed by his sudden announcement that I couldn't say anything." negative when you can only see the disadvan***es: "I feel very negative about my job - the hours are too long and the pay is awful." O overwhelmed so much emotion that you don't know what to say or do: "I was overwhelmed by the offer of promotion at work." over the moon delighted: "She was over the moon with her new bicycle and rode it every day for a whole year." P positive opposite of negative - seeing the good side of something: "She's a very positive person and never lets anything get her down." positive very sure: "Are you sure that's what you want? Yes - I'm positive." pensive thoughtful: "You're in a very pensive mood today. Is everything OK?" R relaxed "I was completely relaxed after I came back from holiday." reluctant when you don't want to do something: "I'm reluctant to buy a new car - the one we have is fine." S seething extremely angry, but hiding it: "She was seething after her boss criticised her." sad: "It makes me sad to see all those animals in cages at the zoo." scared frightened: "Are you scared of heights?" stressed being worried or anxious about something so you can't relax: "I feel really stressed at work - I need a break." "He was stressed out by all the travelling in his job." T terrific fantastic, really good: "I feel terrific today!" terrible ill or tired: "I've got a blinding headache and I feel terrible." terrified very scared: "She's terrified of spiders and screams whenever she sees one." tense not relaxed: "You look a bit tense. Did you have a bad day at work?" U upset angry or unhappy: "I'm sorry you're upset - I didn't mean to be rude." unhappy sad: "I was unhappy to hear that I hadn't got the job." V victimised to feel you are the victim of someone or something: "My boss kept criticising me and not the others, so I felt quite victimised." W wonderful great: "I felt wonderful after such a relaxing weekend This article is copied from this site
Selengkapnya Coy ......

Kamis, 02 Juli 2009

Melongok Kelas Internasional SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta:

Berkiblat pada Kurikulum Cambridge University. Sejak dibuka Kelas Internasional di SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta, selalu dibanjiri pendaftar tiap tahunnya. Puncaknya pada tahun 2005/2006, dari 200 peserta hanya terjaring 24 siswa. Padahal, biaya pendidikan untuk masuk kelas internasional bisa menguras isi kantong hingga Rp 25 juta. Siapa sih yang nggak kepengen punya sekolah top dan berstandar internasional?
MAMPU secara finansial bukan jaminan bisa lolos seleksi Kelas Internasional di SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta Selatan. Bahkan punya NEM SMP tinggi pun tidak cukup. Selain memang harus pintar dan memiliki kemampuan ekonomi tinggi, penguasaan bahasa Inggris menjadi hal utama untuk bisa menuntut ilmu di kelas internasional sekolah favorit di Jakarta. Saat ini ada enam SMA Negeri yang mengembangkan kelas bertaraf internasional di Jakarta yaitu SMA Negeri 28, SMA Negeri 8, SMA Negeri 70, SMA Negeri 68 dan SMA Negeri 81. Kelas Internasional yang dikembangkan di semua SMA Negeri ini berkiblat pada kurikulum Cambridge University. Sebagai sekolah unggulan tingkat nasional, SMA Negeri 70 telah membuka kelas internasional sejak 4 tahun lalu. Pada tahun ajaran 2006/2007 ini, telah meluluskan satu angkatan yang mulai merambah ke dunia kerja maupun melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Antara lain ada yang diterima di Malaysia, Singapura, banyak pula yang tetap melanjutkan kuliah di Indonesia. Bahkan lulusan terbaik dengan NEM tertinggi tingkat provinsi berasal dari siswa kelas internasional Mariani Putri Kusuma Dewi dengan jumlah NEM 27, 873. Menurut Drs Asyikin, Kepala Sekolah SMA Negeri 70, pada angkatan pertama Kelas Internasional masih menggunakan kurikulum plus yang memadukan kurikulum Indonesia dengan Cambridge University. Pada tahun kedua dan seterusnya, barulah menggunakan kurikulum Cambridge University murni yang lebih difokuskan pada mata pelajaran Sains, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan Sosial Studies. “Pada awal masuk, siswa kelas I selama dua bulan dia masuk kelompok O level, setelah itu barulah diarahkan mengikuti program A level,” cetus bapak dua anak kelahiran Cirebon 14 April 1951. Meski secara total berpatokan pada kurikulum Cambridge University, ada mata pelajaran tertentu yang tetap harus diajarkan di Kelas Internasional SMA Negeri 70. Yaitu Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia (PKN), Kesenian dan Olah Raga. “Khusus mata pelajaran MIPA harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Tetapi untuk pelajaran lain, tetap boleh menggunakan bahasa Indonesia,” jelas sosok guru yang berjodoh dengan guru SMP Negeri 164 ini. Penguasaan bahasa Inggris pada dasarnya merupakan salah satu syarat mutlak bagi siswa agar bisa beradaptasi dengan kegiatan belajar mengajar. Meski penyampaian mata pelajaran di kelas tidak selalu berbahasa Inggris, tapi dalam kurun waktu tertentu mereka harus menjawab soal-soal bahasa Inggris. “Untuk melatih keterampilan berbahasa Inggris di kelas, biasanya dilakukan training selama beberapa bulan,” tukas Asyikin yang mensyaratkan penguasaan bahasa Inggris 450 TOEFL dan lulus test matematika terpadu bagi calon siswa kelas internasional. Mengingat keterbatasan yang ada, ungkap Asyikin, guru-guru yang didatangkan untuk mengajar di kelas internasional di SMA Negeri70 tidak selalu dari Cambridge University. Namun standar guru yang mengajar di kelas internasional, dikembangkan oleh Pusat Perwakilan Cambridge University yang ada di Jakarta, yaitu di Universitas Al Azhar. “Kita tidak mengadakan rekrutmen guru atau apa. Kita hanya menyiapkan guru-guru Indonesia dengan standar tertentu untuk mengajar di kelas internasional. Pokoknya pihak sekolah hanya menerima orang tua murid yang putranya ingin masuk ke kelas internasional,” tegas Asyikin. Untuk menambah jumlah guru lokal di kelas internasional, SMA Negeri 70 bekerja sama dengan Universits Negeri Jakara pada September 2006 lalu telah mengadakan pelatihan internal guru-guru non bahasa Inggris tentang bagaimana menerapkan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar mengajar. “Saat ini baru ada dua guru lokal. Mudahmudahan dengan adanya pelatihan ini jumlah guru lokal yang mengajar di kelas internasional bertambah,” cetus lelaki kharismatik yang bercita-cita mengembangan sekolah reguler berstandar internasional ini. Tetap banjir peminat Mahalnya biaya masuk kelas internasional ternyata tidak mengurangi minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya. Dari tahun ke tahun, SMA 70 selalu dibanjiri puluhan pendaftar. Pada tahun pelajaran 2005/2006 lalu saja, ada 200 siswa yang mendaftar dan terpaksa hengkang dari kelas internasional karena hanya memiliki kapasitas menerima 24 siswa. Sedang pada tahun pelajaran 2006/2007 ini, dari 80 pendaftar ada 25 siswa yang dinyatakan lulus ujian seleksi. Iuran yang dibebankan orang tua siswa di SMA Negeri 70 kata Asyikin sebesar Rp 17 – 25 juta per tahun. Tingginya biaya yang ditanggung tiap tahun tidak sama, tergantung fluktuasi nilai poundsterling dan dolar. “Biasanya semakin naik tingkat, semakin turun biaya yang harus dikeluarkan. Biaya ini pun sebenarnya bukan kami (sekolah) yang menentukan, tetapi dari pihak Center Cambridge University,” tukasnya. Biaya tersebut, ungkap Asyikin, diperuntukkan membeli buku, honor guru, biaya perawatan sarana dan prasarana serta biaya ujian. Selama satu tahun penuh siswa tidak dibebani biaya lain selain iuran yang ada. Nah, bagaimana di SMADA Palangkaraya ya?
Selengkapnya Coy ......

Rabu, 01 Juli 2009

ENGLISH LESSON PLAN (a comparison for teachers only)

PART 1 English Lesson Plan: Retelling and Remixing of Folk Tales and Fairy Tales Article by S.A. Coggins (818 pts ) Published on June 30, 2009 Put a new twist to age old favorites! In this lesson plan, you will find a few guidelines and tips on how to carry out a genre study using retold and remixed folk tales and fairy tales using literacy boxes and readings. Rationale for the Study “The archetypes of fairy tales and legends can provide adolescents with answers, reassurance, and the opportunity to safely explore new thoughts, values, and self-identities. Retold fairy tales and legends allow young adults to both link with the past and create their own future by adding their voices to the old tales.” (Source) Lesson Overview little flower girlLearning Area: English – Genre study Topic: Retelling and Remixing of Folk Tales and Fairy Tales Suggested Year Level: 5/6 Lesson Aim/Objective(s): • To introduce the topic of folk tales and fairy tales and to challenge students to think of new ways to approach traditional and well-worn ideas. • To introduce a range of books that retell/remix folk narratives and to ensure that each student has a book to read for the topic. • To discuss the expectations for the unit of work. Student outcomes: • That every student chooses a book to study and records the book’s basic details in their reading response journals. • That all students understand the concept of creating their literacy boxes. • That some students will write initial ideas and feedback regarding their selected books, comparative analysis worksheets/hand-outs, and/or their literacy boxes in their reading response journals. Lesson Preparation/Resources: • A wide selection of books that depict retellings of folk tales and fairy tales, as well as sample of books that tell folk tales and fairy tales in the traditional format • A list of books in this genre (retold folk narratives), including titles that may not be available in the classroom book display • Class literacy box for the introduction (including items in the box) • Comparative analysis worksheet/hand-out • Instructions for student literacy boxes • Class schedule for the topic • Book record sheet for recording each student’s book selections Note: For a sample book list, check out - Book List: Retold and Remixed Folk Tales and Fairy Tales Teaching Notes Basic Definitions • Folk tale - a narrative that is primarily about people that may or may not have existed (or exist). • Fairy tale - a narrative that often has magical characters and elements. Allowances for Students • Allow students with learning/reading difficulties and/or other issues to work with the graphic versions of the stories (e.g., Lauren Child’s remixed fairy tale/folk tale stories; Shannon Hale’s graphic novel, “Rapunzel’s Revenge”, etc). In the next page, you will find the lesson sequence for this study.
PART 2 Lesson Sequence INTRODUCTION - Whole class • Introduce the class literacy box. Ask students to guess what they think might be in the box. Get individual students to pick an item from the box, and then show it to the rest of the class, as well as name it. Once all the items are taken out of the box and exhibited, discuss what they think the topic is all about. Ask the students to name titles of folk tales and fairy tales that may be associated with each item from the box. Show book samples of original tales (if available). • Ask students for definitions and elements of folk tales and fairy tales. Discuss how students think and feel about them. Encourage them to talk about why they like or dislike them. • Lead the discussion towards retold/remixed folk tales and fairy tales. Ask students what they know about this genre. EXAMPLES - Whole class • Read blurbs or summaries from some of the selected books for the topic. Ask students to name the original stories. • Show the other books from the display. • Give students the list of other books from the genre. INFORMATION - Whole class • Explain to the students what this genre study will entail • Reading the retold/remixed version and comparing with original or traditional versions • Reading response journals • Student literacy box – decorating, adding items, and presenting • Encourage students those who may want to write their own retelling/remixing of folk narratives • Discuss the class schedule for the topic • Explain the expectations from this lesson • Choose and record their book in their journals and on the book record sheet for the class • Start reading their chosen books • Begin initial impressions and feedback in their journals • Conceptualise their student literacy boxes GUIDANCE - Individual • Answer students’ questions during reading time. • Help students who might be having trouble selecting a book from the selection. Guide them in checking the book list and/or researching for alternatives. • Guide students who may have questions or concerns regarding the comparative analysis and/or creating their literacy boxes. SHARING and REFLECTIONS - Whole class • Lead the class to have an initial discussion about their chosen books: • “What is the title of your book? Why did you choose that book?” • “What do you think is the original fairy tale or folk tale that your book is based on?” • “What has happened in the story so far?” • “Would you like to share anything from your reading response journal?” CONCLUSION • Talk about some of the interesting points of discussion and feedback • Reiterate class schedule and remind students about the expectations for the next lesson taken from this Site
Selengkapnya Coy ......

Avatar anak BING rombel X SMADA yang manfaatin ICT: