About this blog: It consists of free articles and pictures based on erwan's recent interests only (most are related to education field) and the rest are about the ongoing issues. Some are taken and linked from the source sites while the others are of his own. FYI, the links (in the side bar) are also prepared due to the needs of his job; to encourage his students to learn English via internet, to provide them with helpful sources, and gadgets, and to communicate with them as well. However, visitors from worldwide are also welcome here. Please leave your comments in any space provided to make it better and better in the days to come. Belajar bahasa itu indah Thank you.

INFO GRESS!

Mulai tahun pelajaran 2013-2014 ini saya hijrah mengajar ke kelas XII IS 1, 2 dan 3. Buat bocah rombel X kemaren yang pernah belajar bareng saya dan masuk ke kelas diatas ' I just wanna say, Hey, It's you again! and you know what? as I told you all before, E-Primbon kalian di rombel X kemarin kudu diaktifkan kembali. Well? Any problem? It's never too late to start all over again. Saat bekerja telah tiba. Ayo Semangat!
Anyway, buat bocah rombel X yang baru gabung di SMADA Tahun ini masih boleh browsing dan unduh apa aja di blog ini atawa di blog rombel X RSBI. Raw material nya di sini ato di sana.
Terimakasih. I LOVE YOU ALL.

Kamis, 02 Juli 2009

Melongok Kelas Internasional SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta:

Berkiblat pada Kurikulum Cambridge University. Sejak dibuka Kelas Internasional di SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta, selalu dibanjiri pendaftar tiap tahunnya. Puncaknya pada tahun 2005/2006, dari 200 peserta hanya terjaring 24 siswa. Padahal, biaya pendidikan untuk masuk kelas internasional bisa menguras isi kantong hingga Rp 25 juta. Siapa sih yang nggak kepengen punya sekolah top dan berstandar internasional?

MAMPU secara finansial bukan jaminan bisa lolos seleksi Kelas Internasional di SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta Selatan. Bahkan punya NEM SMP tinggi pun tidak cukup. Selain memang harus pintar dan memiliki kemampuan ekonomi tinggi, penguasaan bahasa Inggris menjadi hal utama untuk bisa menuntut ilmu di kelas internasional sekolah favorit di Jakarta. Saat ini ada enam SMA Negeri yang mengembangkan kelas bertaraf internasional di Jakarta yaitu SMA Negeri 28, SMA Negeri 8, SMA Negeri 70, SMA Negeri 68 dan SMA Negeri 81. Kelas Internasional yang dikembangkan di semua SMA Negeri ini berkiblat pada kurikulum Cambridge University. Sebagai sekolah unggulan tingkat nasional, SMA Negeri 70 telah membuka kelas internasional sejak 4 tahun lalu. Pada tahun ajaran 2006/2007 ini, telah meluluskan satu angkatan yang mulai merambah ke dunia kerja maupun melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Antara lain ada yang diterima di Malaysia, Singapura, banyak pula yang tetap melanjutkan kuliah di Indonesia. Bahkan lulusan terbaik dengan NEM tertinggi tingkat provinsi berasal dari siswa kelas internasional Mariani Putri Kusuma Dewi dengan jumlah NEM 27, 873. Menurut Drs Asyikin, Kepala Sekolah SMA Negeri 70, pada angkatan pertama Kelas Internasional masih menggunakan kurikulum plus yang memadukan kurikulum Indonesia dengan Cambridge University. Pada tahun kedua dan seterusnya, barulah menggunakan kurikulum Cambridge University murni yang lebih difokuskan pada mata pelajaran Sains, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan Sosial Studies. “Pada awal masuk, siswa kelas I selama dua bulan dia masuk kelompok O level, setelah itu barulah diarahkan mengikuti program A level,” cetus bapak dua anak kelahiran Cirebon 14 April 1951. Meski secara total berpatokan pada kurikulum Cambridge University, ada mata pelajaran tertentu yang tetap harus diajarkan di Kelas Internasional SMA Negeri 70. Yaitu Bahasa Indonesia, Agama, Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia (PKN), Kesenian dan Olah Raga. “Khusus mata pelajaran MIPA harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Tetapi untuk pelajaran lain, tetap boleh menggunakan bahasa Indonesia,” jelas sosok guru yang berjodoh dengan guru SMP Negeri 164 ini. Penguasaan bahasa Inggris pada dasarnya merupakan salah satu syarat mutlak bagi siswa agar bisa beradaptasi dengan kegiatan belajar mengajar. Meski penyampaian mata pelajaran di kelas tidak selalu berbahasa Inggris, tapi dalam kurun waktu tertentu mereka harus menjawab soal-soal bahasa Inggris. “Untuk melatih keterampilan berbahasa Inggris di kelas, biasanya dilakukan training selama beberapa bulan,” tukas Asyikin yang mensyaratkan penguasaan bahasa Inggris 450 TOEFL dan lulus test matematika terpadu bagi calon siswa kelas internasional. Mengingat keterbatasan yang ada, ungkap Asyikin, guru-guru yang didatangkan untuk mengajar di kelas internasional di SMA Negeri70 tidak selalu dari Cambridge University. Namun standar guru yang mengajar di kelas internasional, dikembangkan oleh Pusat Perwakilan Cambridge University yang ada di Jakarta, yaitu di Universitas Al Azhar. “Kita tidak mengadakan rekrutmen guru atau apa. Kita hanya menyiapkan guru-guru Indonesia dengan standar tertentu untuk mengajar di kelas internasional. Pokoknya pihak sekolah hanya menerima orang tua murid yang putranya ingin masuk ke kelas internasional,” tegas Asyikin. Untuk menambah jumlah guru lokal di kelas internasional, SMA Negeri 70 bekerja sama dengan Universits Negeri Jakara pada September 2006 lalu telah mengadakan pelatihan internal guru-guru non bahasa Inggris tentang bagaimana menerapkan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar mengajar. “Saat ini baru ada dua guru lokal. Mudahmudahan dengan adanya pelatihan ini jumlah guru lokal yang mengajar di kelas internasional bertambah,” cetus lelaki kharismatik yang bercita-cita mengembangan sekolah reguler berstandar internasional ini. Tetap banjir peminat Mahalnya biaya masuk kelas internasional ternyata tidak mengurangi minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya. Dari tahun ke tahun, SMA 70 selalu dibanjiri puluhan pendaftar. Pada tahun pelajaran 2005/2006 lalu saja, ada 200 siswa yang mendaftar dan terpaksa hengkang dari kelas internasional karena hanya memiliki kapasitas menerima 24 siswa. Sedang pada tahun pelajaran 2006/2007 ini, dari 80 pendaftar ada 25 siswa yang dinyatakan lulus ujian seleksi. Iuran yang dibebankan orang tua siswa di SMA Negeri 70 kata Asyikin sebesar Rp 17 – 25 juta per tahun. Tingginya biaya yang ditanggung tiap tahun tidak sama, tergantung fluktuasi nilai poundsterling dan dolar. “Biasanya semakin naik tingkat, semakin turun biaya yang harus dikeluarkan. Biaya ini pun sebenarnya bukan kami (sekolah) yang menentukan, tetapi dari pihak Center Cambridge University,” tukasnya. Biaya tersebut, ungkap Asyikin, diperuntukkan membeli buku, honor guru, biaya perawatan sarana dan prasarana serta biaya ujian. Selama satu tahun penuh siswa tidak dibebani biaya lain selain iuran yang ada. Nah, bagaimana di SMADA Palangkaraya ya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

any opinion?

Avatar anak BING rombel X SMADA yang manfaatin ICT: