About this blog: It consists of free articles and pictures based on erwan's recent interests only (most are related to education field) and the rest are about the ongoing issues. Some are taken and linked from the source sites while the others are of his own. FYI, the links (in the side bar) are also prepared due to the needs of his job; to encourage his students to learn English via internet, to provide them with helpful sources, and gadgets, and to communicate with them as well. However, visitors from worldwide are also welcome here. Please leave your comments in any space provided to make it better and better in the days to come. Belajar bahasa itu indah Thank you.

INFO GRESS!

Mulai tahun pelajaran 2013-2014 ini saya hijrah mengajar ke kelas XII IS 1, 2 dan 3. Buat bocah rombel X kemaren yang pernah belajar bareng saya dan masuk ke kelas diatas ' I just wanna say, Hey, It's you again! and you know what? as I told you all before, E-Primbon kalian di rombel X kemarin kudu diaktifkan kembali. Well? Any problem? It's never too late to start all over again. Saat bekerja telah tiba. Ayo Semangat!
Anyway, buat bocah rombel X yang baru gabung di SMADA Tahun ini masih boleh browsing dan unduh apa aja di blog ini atawa di blog rombel X RSBI. Raw material nya di sini ato di sana.
Terimakasih. I LOVE YOU ALL.

Kamis, 27 Agustus 2009

Harta Terpendam

Ada berbagai kecerdasan yang dimiliki dan dipakai orang untuk mencapai sukses. Itulah yang diutarakan oleh Howard Gardner melalui teorinya, Kecerdasan Majemuk. Apa saja kecerdasan yang dimaksud nanti kita bahas. Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah, dengan potensi-potensi kecerdasan yang ada itu, mengapa siswa-siswi kita masih tetap merasa dirinya bodoh? Mungkinkah ada yang salah dengan mereka atau justru sekolah yang patut dikoreksi? Bukan bermaksud mencari siapa yang salah, tapi harus diakui memang ada kekeliruan yang terjadi. Misalnya saja kebanyakan sekolah yang hanya berupaya semaksimal mungkin agar mendapat ‘gelar’ sekolah favorit karena berhasil meluluskan 100% siswa-siswanya setelah menempuh ujian nasional tiap tahunnya. Walaupun masih banyak kisah kontroversial yang menyertai keberhasilan itu..hm.. Anak-anak dijejali dengan seabreg tugas belajar dan les tambahan diluar jam belajar. Di rumah orang tua tak kalah repot. Anak disuruh ikut bimbel ini itu untuk menggenjot kemampuan IQ agar lulus dalm tiap ujian. Semua demi angka rapor dan SKHU yang melampaui angka KKM atau standar kelulusan nasional yang ditetapkan. Semua berorientasi ke angka-angka. Bahkan yang unik pernah terjadi adalah seorang anak juara olimpiade yang tidak lulus UN. Wah? Masyarakat pun terperangah dan kembali bertanya, Siapa yang salah? Sekolah, sistem pendidikan, Orang tua, atau siapa? Bila kita tengok ke sekolah, jujur segala suatu masih cenderung mengacu ke pemerolehan IQ saja (baca: naik kelas dan lulus UN). Generasi apa yang sedang kita persiapkan ini?

Kembali ke teori Gardner, sejatinya kecerdasan tidak hanya berupa IQ yang kita kenal selama ini. Gardner pun menyebut ke tujuh kecerdasan itu: Kecerdasan Visual/Spasial, Kecerdasan Verbal/Linguistik, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Kinestetis, Kecerdasan Logis/Matematis, Kecerdasan Interpersonal, dan Kecerdasan Intrapersonal. Sungguh siswa-siswi kita memiliki beberapa diantaranya atau bahkan semuanya. Sekarang saatnya kita semua membuka mata. Kita telaah tiap potensi kecerdasan yang mungkin mereka miliki. Lebih cepat lebih baik. Setelah itu potensi tadi pun siap digarap. Orang tua diharapkan tidak bulat-bulat menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak hanya ke pihak sekolah. Demikian pula sebaliknya. Mainkan peran sesuai porsi masing-masing. Orang tua dan guru sudah selayaknya bersinergi untuk mengamati dan menggali potensi kecerdasan apa saja yang mungkin dimiliki oleh si anak jauh di dalam sana. Bak ‘harta yang terpendam’. Cobalah perhatikan. Apakah anak atau anak didik kita ada yang memiliki daya pengamatan yang tinggi dan kemampuan berpikir dalam bentuk gambar. Mereka yang termasuk dalam kategori ini biasanya senang bermain dengan hal merakit atau membentuk sesuatu. Mereka juga senang menciptakan bentuk dari cat, tanah liat ataupun program komputer. Anak yang memiliki kecerdasan ini juga dapat dengan mudah mengenali bentuk wajah seseorang dalam kerumunan orang banyak.Kelak mereka akan mampu bekerja dalam bidang arsitek, seniman, set designer, perancang grafis komputer maupun fotografer. Nah, mereka inilah yang disebut memiliki kecerdasan visual/spasial. Adakah anak didik kita berbicara lebih cepat dan lebih sering. Mereka senang mungumpulkan kata-kata nakal dan memamerkan kemampuan mereka kepada orang lain. Ribut dan suka berceloteh saat guru menjelaskan atau Mereka menyukai lelucon dan kalimat plesetan. Anak-anak ini juga senang memutar film atau cerita berulang-ulang, sampai mereka hafal di luar kepala. Sesungguhnyalah mereka itu memiliki kepekaan dalam memahami struktur, arti, dan penggunaan bahasa, baik tulisan maupun lisan. Nah mereka ini bisa saja menjadi pengajar, pengacara, ahli hubungan masyarakat, juga penulis di kemudian hari. Mereka memiliki kecerdasaan verbal/linguistik. Hanya belum terarah dengan baik. Selanjutnya bila kita mendapati mereka memiliki kemampuan mengenali pola, tinggi rendahnya nada, melodi, dan irama, ditambah dengan kepekaan menangkap aspek-aspek bunyi dan musik secara mendalam atau penuh perasaan. Beberapa composer dunia seperti Beethoven, Mozart, atau grup musik Scorpion, penyanyi dan aktor Frank Sinatra adalah contoh mereka yang memiliki kecerdasan berikutnya, yakni kecerdasan musikal. Coba perhatikan apakah anak atau anak didik kita mempunyai kemampuan untuk mengolah tubuh secara ahli, atau kemampuan untuk mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan. Ini termasuk kemampuan menangani benda dengan cekatan dan membuat sesuatu. Michael Jordan, David beckham, atau penari dan penyani Joshepine Parker adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan di bidang olah tubuh. Mereka ini termasuk kategori yang memiliki kecerdasan kinestetis. Kecerdasan berikutnya adalah kecerdasan logis/matematis. Apakah para anak didik mampu mengatur pola pikir induktif dan deduktif, bekerja dengan angka dan pola abstrak, serta mampu berpikir logis. Albert Einstein, ahli tumbuh-tumbuhan dan kimia tanaman George Washington Carver, dan ahli astronomi Benjamin Banneker disebut sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan logis dan matematis yang tinggi. Barangkali anak kita pun ada yang punya potensi kecerdasan ini? Berikutnya, Kecerdasan interpersonal. Ini terkait dengan kepandaian untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Kecerdasan ini menuntun seseorang untuk memahami, bekerja sama dan berkomunikasi serta memelihara hubungan baik dengan orang lain. Mereka biasanya pandai bergaul dan memiliki banyak teman. Karena itulah mereka dengan kecerdasan ini bisa menjadi konsultan, manajer HRD, pandai melobi atau juru runding,atau juga berniaga. Mereka yang mengenali dirinya, terutama kepekaan terhadap nilai, tujuan dan perasaan mereka termasuk kategori memiliki potensi kecerdasan intrapersonal. Sifat tersebut membuat mereka mandiri, penuh percaya diri, punya tujuan dan disiplin. Mereka pun tidak ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam kelompok. Potensi ini mengarahkan mereka untuk menjadi peneliti, ahli agama, ahli kebudayaan, juga pengamat yang baik. Anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal biasanya tidak cepat puas dengan hasil pekerjaan mereka. Mereka akan terus mengeksplorasi diri sendiri. Selain itu,ada dua kecerdasan lain yang tak kalah penting dan justru punya pengaruh besar yaitu Kecerdasan spiritual dan Kecerdasan emosional. Yang pertama adalah untuk mengolah God spot di dalam diri untuk senantiasa taat kepada sang Khalik yang maha memberi kecerdasan dan tuntunan, dan kecerdasan yang kedua untuk mengasah diri terhindar dari stress, depresi, dan frustasi menjalani tantangan hidup dan kehidupan. Kecerdasan sejatinya merupakan kumpulan dari kepingan kemampuan yang ada di beragam bagian otak dan semua kepingan ini saling berhubungan, tetapi juga bisa bekerja sendiri-sendiri. Seorang anak mungkin hanya memiliki sekian dari semua kecerdasan tadi. Atau bahkan semua? Seperti halnya otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hidup asal terus dibina dan ditingkatkan. Sayang sungguh sayang kita masih sering luput mengamati, lebih-lebih menggali semua potensi yang ada di anak. Anak lebih sering dibiarkan mencari jati diri sendiri. Hasilnya? Ada yang berhasil namun tidak sedikit yang malah tersesat atau bahkan disesatkan ke hal negatif. Lingkungan dimana si anak tumbuh dan berkembang sudah pasti turut andil dalam proses penggalian potensi ini. Artinya, dalam lingkungan yang tepat, orang bisa menjadi semakin cerdas. Bahwa orang tua, Sekolah (dalam hal ini guru), dan Masyarakat bertanggung jawab memberikan lingkungan yang tepat bagi mereka adalah hal yang sudah seharusnya. Namun satu hal lain yang patut diingat oleh para siswa sendiri sebagai individu adalah bahwa mereka pun tak lepas dari tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Pilihannya adalah untuk berkembang secara positif dengan potensi kecerdasan masing-masing atau malah kehilangan Jati diri dan terjerembab dalam pencarian. Semua ada di depan mata. Apakah ‘harta itu masih terpendam’ ? Butuh niat dan usaha yang sungguh-sungguh untuk bisa mewujudkannya. (Sumber : Seven Times Smarter, Laurel Schmidt)

1 komentar:

  1. pak,mnurut sya. kcrdasan jga trlihat dri tngkah laku....suatu kcrdasan jga dpat mncul dri lingkungan,,pastinya lngkungan yg baik.

    BalasHapus

any opinion?

Avatar anak BING rombel X SMADA yang manfaatin ICT: