About this blog: It consists of free articles and pictures based on erwan's recent interests only (most are related to education field) and the rest are about the ongoing issues. Some are taken and linked from the source sites while the others are of his own. FYI, the links (in the side bar) are also prepared due to the needs of his job; to encourage his students to learn English via internet, to provide them with helpful sources, and gadgets, and to communicate with them as well. However, visitors from worldwide are also welcome here. Please leave your comments in any space provided to make it better and better in the days to come. Belajar bahasa itu indah Thank you.

INFO GRESS!

Mulai tahun pelajaran 2013-2014 ini saya hijrah mengajar ke kelas XII IS 1, 2 dan 3. Buat bocah rombel X kemaren yang pernah belajar bareng saya dan masuk ke kelas diatas ' I just wanna say, Hey, It's you again! and you know what? as I told you all before, E-Primbon kalian di rombel X kemarin kudu diaktifkan kembali. Well? Any problem? It's never too late to start all over again. Saat bekerja telah tiba. Ayo Semangat!
Anyway, buat bocah rombel X yang baru gabung di SMADA Tahun ini masih boleh browsing dan unduh apa aja di blog ini atawa di blog rombel X RSBI. Raw material nya di sini ato di sana.
Terimakasih. I LOVE YOU ALL.

Selasa, 12 Mei 2009

REMAJA DAN FREE SEX

Cobalah sejenak menengok satu hal yang memprihatinkan tentang remaja kita. Berdasarkan survey sebuah lembaga yang peduli tentang remaja, ditemukan angka statistik yang menyebut 63% remaja sekarang telah melakukan sex pra nikah.

Memang masih ada 37% remaja yang masih 'baik'. Namun 63% ? Bukan sebuah angka kecil. Mungkin iya, menjadi begitu kecil dan bahkan mungkin tidak lagi kelihatan saat tidak ada yang mau peduli karena toh berita dan informasi terus berganti setiap hari dengan isu-isu lain yang lebih heboh dan menarik. Apa yang sebenarnya terjadi? Sudah sebegitu parahkah moral bangsa ini sehingga kebanggaan menjadi orang timur yang 'konon' berkeperibadian santun dan menjunjung norma dalam hidup dengan beragam aturan adat, sosial dan agama sudah menguap begitu saja? Mana tanggungjawab pendidikan? Apakah isi kepala remaja kita hanya sex? Semua orang sangat sibuk. Orang tua sibuk banting tulang untuk keluarga dan karena alasan waktu dsb menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak bulat-bulat ke lembaga pendidikan atau bahkan pembantu di rumah tanpa mau sejenak memikirkan bahwa orangtua pun punya tanggungjawab besar untuk mendidik anak. Sekolah yang mengejar target kelulusan deangan standar UN yang 'berpolemik' sehingga nyaris 'menghalalkan secara sistematis' cara jitu meluluskan semua siswa karena SKL yang terus membumbung untuk sebuah 'kualitas pendidikan berstandar nasional'. Pemerintah melalui birokrat yang berlabel payung pendidikan, baik itu departemen ataupun Para wakil rakyat di komisi-komisi serta pihak terkait yang sibuk membuat konsep-konsep, metode dan segala aturan pendidikan masa depan cemerlang, dengan diksi yang begitu ilmiah memandang, mengingat, menimbang, mengukur dan akhirnya bertutur tentang pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting sebagai modal pembangunan pilar bangsa namun pada kenyataan ibarat api jauh dari panggang. Aplikasi dan implikasi di lapangan tak seindah bayangan. Slogan-slogan indah pun bertebaran. Niat yang semula baik banyak yang berubah menjadi pembagian proyek semata.Angka APBN yang 20% begitu menggiurkan sejumlah oknum. Harusnya, mutu pendidikan kita jauh lebih baik dari masa lalu saat guru-guru indonesia diminta negara lain untuk mengajar di negaranya.Sekarang yang keluar negeri kebanyakan adalah TKI yang berkonotasi'Kuli'. Masyarakat kita? Ada yang Begitu senang menegur pemerintah melalui demo-demo di jalan, menjadi pengamat yang berteriak nyaring dan serak di media namun tak begitu di acuhkan, ada yang menjadi anarkis dengan mencaci maki, membakar dan merusak dan kemudian berbutut dicap sebversif dengan menolak mentah-mentah banyak kebijakan yang dinilai tidak memihak orang kecil sampai akhirnya ada yang menjadi diam dan apatis atau bahkan oportunis. Semua terlihat nyata berpecah belah.Persis seperti sejarah waktu 350 tahun penjajahan Belanda yang memecah belah persatuan anak bangsa. Rakyat jelata dibiarkan dan sengaja dibuat bodoh dengan tidak boleh bersekolah karena dengan begitu Belanda bisa mudah mengeruk kekayaan alam Indonesia. Tidak peduli sodara,teman, tetangga kampung sebelah semua begitu mudah terbakar emosi hanya karena masalah sepele. Nah, lengkaplah sudah komposisi ini sebagai bahan adonan yang akan menciptakan kue generasi berikutnya yang tebak saja akan menjadi apa...dan kiranya pantas bila Indonesia tidak perlu dicap sebagai negara yang 'berbahaya' seperti halnya Cina, Korsel, Iran dan lainnya yang masyarakatnya sudah sebegitu rajin belajar dan maju dengan teknologi nuklirnya. Indonesia? Sudah cukup bahkan sangat repot mengurus diri sendiri dengan isu-isu tidak penting dan mengancam negara adi kuasa. Sejarah bahkan mencatat beberapa kali Kapal dan pesawat asing yang berseliweran dengan mudah di negara 'besar' ini yang tanpa izin dan sedihnya tak mampu dikejar oleh tentara kita yang tidak punya kapal dan pesawat secanggih mereka. Ingat juga kasus NAMRU? Tanpa sepengetahuan bangsa ini entah apa yang telah mereka selidiki 'sebenarnya' di laut-laut perairan indonesia. Bangsa ini hanya tahu bahwa Namru hanya melakukan penelitian biologi berkenaan dengan beberapa kasus medis yang tampak begitu sederhana dan tak perlu dicurigai sebagai kegiatan spionase. Atau jug beberapa kasus pulau NKRI yang dicaplok dengan cukup mudah karena klaim perbedaan batas negara. Banyak batas negara dilanggar. Sumber daya alam dikeruk di depan mata. Aset nasional dijual kepada pemilik modal asing. pembuatan Undang-undang pun disinyalir didikte oleh pihak asing.Kita benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Sebodoh itu kah bangsa ini? Meminjam pernyataan seorang pakar dan praktisi pendidikan Arif Rahman yang menyatakan bahwa kecerdasan intelektual tidak lantas membuat seseorang itu berhasil dalam hidupnya.Artinya, pintar saja tidaklah cukup. Ada kecerdasan-kecerdasan lain yang juga harus dimiliki oleh para remaja dan pelajar. Antara lain kecerdasan Emosional, Spiritual, Sosial dan Kinetis. Mungkin tidak semua kecerdasaan tadi dimiliki tiap individu namun setidaknya ada beberapa atau bahkan sebagian besar yang dapat dimiliki.Semua tanggung jawab akan pemerolehan kecerdasan tersebut ada di tangan kita bersama, Orang tua, Sekolah, Pemerintah dan Masyarakat.Anak-anak dan remaja memiliki hak mendapatkan pendidikan. Boleh-boleh saja orang tua sibuk membanting tulang tapi tetap harus sadar pendidikan. Lebih-lebih tentang pendidikan SEX sejak usia dini. Luangkan lah waktu. Gunakan teknologi komunikasi bila perlu. Berkomunikasilah yang ajeg dengan pihak sekolah. Beri masukan, kritik, hingga bantuan yang diperlukan. Mungkin masih ada sarana prasarana yang butuh dana swadaya untuk kepentingan proses belajar yang menjadi kendala. Boleh-boleh saja sekolah berupaya mencapai target 100% kelulusan tapi tidak lantas membuat Tim Sukses bak mesin politik partai, atau cara-cara kurang baik lainnya.Bukankah keberhasilan sekolah sejatinya tidak semata-mata diukur dari banyaknya lulusan namun justru memandang penting mutu dan proses pendidikan dalam upaya pemerolehan ilmu pengetahuan dan budi pekerti para peserta didik sebagaimana visi dan misi? siswa lulusan yang berilmu pengetahuan, berbudipekerti luhur, beriman dan bertaqwa, de el el.Percayalah, masih akan ada seleksi alam. Sebanyak lulusan itu jugakah mereka yang berhasil diterima di PT atau bahkan bekerja? UAN, UN atau apapun namanya mestinya tidak lagi menjadi momok karena jika peserta didik benar-benar mengikuti proses KBM di sekolah dengan 8 standar yang dimiliki, maka tidak perlu ada kekuatiran saat harus menghadapi sebuah ujian, kapan, dimana dan siapa yang menguji. Boleh-boleh saja pemerintah lewat para birokrat sibuk dengan rapat konsep gagasan cemerlang namun tetap harus realistis, profesional dan proporsional mengemban amanah UUD 45 yang berpihak kepada kepentingan hajat hidup orang banyak, dan pastikan tidak selesai sebagai wacana belaka namun dikerjakan dan diawasi hingga ke lapangan berkoordinasi dengan pihak terkait yang kredibel tentunya. Berikan otonomi sekolah untuk menentukan si A Lulus atau tidak karena para guru di sekolah lebih tau dan mengerti 'kompetensi si A tadi. Kemudian secara nasional berikanlah sertifikat standar 'apa' untuknya. Dukung pula program=program peningkatan mutu pendidik profesional dan kesejahteraannya. Upayakan aturan yang jelas dan tidak berubah bak 'toleransi', kadang boleh begini kadang harus begitu, dan pastinya memihak kepada guru dan pendidikan. Awasi juga implementasi UU antipornografi dan porno aksi. Masih banyak media cetak dan elektronik yang menyajikan tayangan yang bisa berpotensi porno dan kesalahpahaman tentang SEX yang begitu mudah di akses oleh para remaja. Boleh-boleh saja masyarakat protes ini itu dalam kerangka turut berpartisipasi sebagai alat kontrol dan itu bagus. Namun sebaiknya tetap mengindahkan cara dan aturan yang berlaku benar di mata hukum. Kritik itu sejatinya dibarengi dengan solusi sehingga semua kelak akan bermuara kepada kebaikan dan kemaslahatan bersama. Berikan pula contoh dan panutan bagi para remaja. Khususnya pendidikan SEX. Menegur sampai melaporkan adanya tindakan atau perilaku atau kegiatan remaja maupun pelajar di lingkungan tempat tinggal yang menjurus ke arah pergaulan bebas ke pihak terkait atau berwenang misalnya. Para remaja? Hey, kalian adalah penerus generasi. Jangan loyo dan cuma bisa menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi. Sebagai pelajar tugas utama kalian adalah belajar. memersiapkan diri dengan Ilmu pengetahuan untuk bekal kemudian. Do something better! Banyak aktifitas positif yang bisa dikerjakan ketimbang menuhin isi kepala dengan SEX! The time will come. Saat kalian sudah matang dan dewasa dalam bertindak dan berfikir. Siap lahir batin dan mapan. Maka menikahlah! Para gadis belia. Jangan mudah hanyut akan rayuan atas nama cinta. Bila itu memang cinta sejatinya pacar justru menjaga sungguh kesucian. Para cowok, berpuasalah untuk melatih hawa nafsu. Jangan sampai menyesal kemudian. Jalan masih panjang. Raihlah cita-citamu. Nah, Bila saja semua pihak memainkan peran dan tugas pokok masing-masing dengan kesungguhan, mudah-mudahan mutu pendidikan yang lebih baik akan menciptakan our next generation yang lebih baik juga. Tugas mereka pasti lebih banyak dan lebih sulit seiring beragamnya tantangan zaman. Semoga berhasil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

any opinion?

Avatar anak BING rombel X SMADA yang manfaatin ICT: